Aku seorang pengecut. Benar, katakanlah. Melakukan tak semudah membayangkan. Hanya spekulasi yang berani ku lakukan, tapi realisasi sangat jauh dari harapan. Jangan untuk menyudahi, melanjutkan saja aku tak mampu. Sebatas memulai saja mungkin, tapi itu jauh dari harapan. Ingin menyudahi langkah ini. Bagian dari rencana, langkah cepat untuk menyudahi kemudian melanjutkan dengan langkah baru. Sekarang masih sebatas rencana, belum ada realisasi. Masih takut untuk mengambil konsekuensi. Benar itulah pengecut, tapi sayang itu aku.
Friday, 2 December 2011
Metodologi Diskusi
time post
2:25:00 am
Manusia sebagai makhluk sosial tentu membutuhkan adanya hubungan dengan manusia lain. Tidak hanya hubungan secara fisik saja tapi juga hubungan ide diantara mereka. Hubungan ide antara satu manusia dengan manusia lain disebut sebagai komunikasi.
Dalam proses komunikasi, seseorang mengirimkan pesan kepada penerima pesan dengan harapan adanya reaksi terhadap pesan tersebut. Jadi komunikasi akan terjadi jika terdapat tiga hal yaitu pengirim pesan, pesan itu sendiri dan terakhir penerima pesan.
Pesan merupakan ide / pikiran manusia yang didapat melalui berbagai cara. Ada secara inderawi, ada secara akli, intuisi dan lain sebagainya. Ide yang ada merupakan cerminan dari realitas yang ada. Tak mungkin ide manusia merupakan cerminan dari yang tiada. Yang tiada tak mungkin memberikan efek, termasuk efek terhadap pengetahuan manusia.
Untuk memudahkan manusia dalam berpikir, manusia melakukan abstraksi terhadap cerminan dari realitas. Abstraksi tersebut dinamakan dengan bahasa. Bahasa terdiri atas simbol-simbol yang menggambarkan konsepsi manusia tentang realitas.
Dalam komunikasi, simbol-simbol tersebut bersifat material agar bisa diindera oleh penerima pesan sehingga bisa ditanggapi olehnya. Simbol yang merupakan alat komunikasi tersebut merupakan kesepakatan masyarakat, sehingga ia bisa digunakan bersama-sama dan komunikasi dapat mencapai tujuannya. Jika simbol yang digunakan oleh berbeda antara pengirim peesan dan penerima pesan maka komunikasi akan gagal, ide yang ingin disampaikan oleh pengirim pesan tidak dimengerti oleh penerima pesan.
Begitu juga dengan pemaknaan terhadap simbol yang sama, ia harus disepekati bersama oleh pengirim dan penerima pesan. Jika makna suatu simbol tidak sama antara yang dimaksud oleh pengirim pesan dan yang dimengerti oleh penerima pesan, maka komunikasi akan gagal. Contoh yang sering diceritakan adalah pemaknaan ka “atos” antara orang Jawa dengan orang Sunda. Orang Jawa memaknai “atos” dengan makna keras, sedangkan orang Sunda memaknai sebagai makna “sudah”.
Jadi dalam suatu komunikasi harus ada kesamaan bahasa dan makna yang dipakai / dipahami oleh pengirim pesan dan penerima pesan. Selain itu, bahasa juga harus menunjuk pada realitas yang sama. Jika ada komunikasi menggunakan kata “kucing” dengan makna yang sama tetapi realitas yang ditunjuk berbeda, maka komunikasipun akan gagal. Jadi dalam suatu komunikasi dapat disimpulkan harus ada kesesuaian antara bahasa, pikiran dengan realitas yang dimaksudkan.
Sebagian orang mengatakan bahwa pemaknaan terhadap suatu simbol oleh seseorang tidak sama dengan orang lain. Begitu juga dengan penunjukan suatu makna terhadap suatu realitas. Sehingga mereka menyimpulkan bahwa kebenaran menurut seseorang tidak sama dengan kebenaran menurut orang lain. Dengan kata lain, kebenaran bernilai relatif. Pemahaman demikian tidaklah tepat. Jika demikian adanya, maka seseorang tidak dapat memastikan kebenaran. Sehingga apapun yang dikomunikasikan tidak akan pernah sesuai dengan tujuan berkomunikasi. Lalu, bagaimana dengan pernyataan-pernyataan mereka?. Konsekuensinya, apapun yang mereka ucapkan harus diabaikan.
Antara satu manusia dengan manusia lain memang memiliki perbedaan. Namun harus diketahui juga bahwa antara mereka juga memiliki kesamaan. Kesamaan antara satu orang dengan orang lain adalah dalam kaidah-kaidah berpikirnya, misalnya. Tidak mungkin ada interaksi, dalam hal ini komunikasi jika tidak ada kesamaan antara satu dengan lainnya. Selain itu, kesamaan pikiran antara manusia satu dengan yang lainnya bisa dihasilkan melalui kesepakatan-kesepakatan. Misalnya kesepakatan bahwa kata “manusia” digunakan untuk mewakili hewan yang berpikir.
Dalam berkomunikasi, yang dimaksud dengan pesan adalah pikiran yang dinyatakan oleh pengirim pesan. Maka membicarakan tentang kebenaran pikiran merupakan suatu hal yang diperlukan. Komunikasi akan berjalan dengan baik jika pesan (pikiran) bernilai benar.
Kebenaran suatu pikiran haruslah memenuhi dua syarat yaitu syarat bentuk dan syarat isi. Syarat bentuk berkaitan kesesuaian susunan-susunan pikiran dengan kaidah berpikir manusia. Sedangkan syarat isi berkaitan dengan kesesuaian dengan realitas (kenyataan). Kebenaran bentuk diuji secara deduktif sedangkan kebenaran isi diuji dengan metode induktif.
Kaidah berpikir manusia secara garis besar dibagi menjadi tiga yang dikenal dengan Prima Principia. Ketiga hal tersebut adalah:
1. Prinsip berpikir
Prinsip ini menyatakan bahwa sesuatu adalah sesuatu itu sendiri; A adalah A.
2. Prinsip non-kontradiksi
Prinsip ini menyatakan bahwa sesuatu bukan selain sesuatu itu:; A bukan selain A; A tidak sama dengan selain A.
3. Prinsip Menolak kemungkinan ketiga.
Prinsip ini menyatakan bahwa pikiran manusia hanya bisa menunjuk sesuatu atau selainnya saja. Sesuatu atau selainnya saja; A atau selain A.
Kaidah-kaidah berpikir manusia diatas merupakan bentuk konsistensi pikiran terhadap pikiran sebelumnya. Sedangkan kebenaran isi merupakan bentuk konsistensi pikiran terhadap kenyataan yang dimaksud oleh pikiran tersebut. Kesalahan pesan dalam sebuah komunikasi dapat dikategorikan menjadi dua; yaitu kesalahan yang tidak disadari dan ksalahan yang disadari. Kesalahan yang disadari biasa disebut dengan kebohongan.
Kebutuhan manusia akan pengetahuan adalah kebutuhan yang sangat mendasar. Kebutuhan ini sangat menentukan keberhasilan kehidupan seorang manusia. Pengetahuan digunakan manusia untuk menentukan tujuan dan cara mencapai tujuan. Tanpa pengetahuan kehidupan manusia menjadi tidak berarti.
Keterbatasan seorang manusia untuk mendapatkan pengetahuan tak mungkin dapat memenuhi kebutuhannya yang sangat banyak. Keterbatasan fisik, latar belakang, waktu, dan tempat misalnya menyebabkan pengetahuan yang didapatkan juga terbatas. Sehingga ia membutuhkan yang lain untuk melengkapi kekurangannya. Ia membutuhkan pengetahuan orang lain untuk memenuhi kenutuhannya akan pengetahuan.
Diskusi merupakan metode untuk mendapatkan pengetahuan baru. Pengetahuan seseorang yang didapatkannya di luar diskusi disampaikan kepada peserta diskusi lain sehingga peserta diskusi akan mendapatkan pengetahuan baru. Namun pengetahuan baru tersebut tidak dapat langsung dibenarkan. Ia harus diuji terlebih dahulu baik dari segi bentuk maupun dari segi isi. Sehingga pengetahuan yang disampaikan dapat dipastikan kebenarannya.
Untuk berjalannya proses diskusi degan baik maka ada syrat-syarat yang harus dipenuhi. Syarat-syarat tersebut adalah;
1. Adanya perbedaan
Karena tujuan diskusi adalah untuk mendapatkan pengetahuan baru maka harus ada perbedaan pengetahuan antara satu dengan yang lainnya tentang sesuatu yang didiskusikan.
2. Adanya kesamaan
Hubungan dalam hal ini adalah hubungan pikiran satu orang dengan orang lain hanya akan terjadi jika ada kesamaan. Kesamaan ini bisa berupa kesamaan prinsip berpikir, kesamaan bahasa yang dipahami, masalah yang dibicarakan maupun kesamaan tujuan. Jika seseorang berdiskusi namun tujuannya bukan untuk mendapatkan pengetahuan baru yang benar, misalnya untuk memaksakan pendapatnya, maka diskusi tidak akan berjalan dengan baik.
Selain kesamaan yang disebutka di atas, harus ada kesamaan juga dalam menilai kebenaran suatu pemikiran. Kriteria kebenaran yang harus disepakati adalah;
1. Kebenaran bersifat universal
Kebenaran suatu pemikiran harus bernilai universal, artinya berlaku untuk kapanpun dan dimanapun. Jika tidak demikian maka peserta diskusi yang tempat dan waktu mendapatkan pengetahuan baru tersebut berbeda tidak dapat menerima kebenaran tersebut.
2. Kebenaran bersifat mutlak
Tanpa pandangan tersebut, maka diskusi akan sis-sia. Apapun pengetahuan baru yang ada dalam sebuah diskusi tidak dapat diterima sebagai kebenaran. Sehingga semua perkataan yang dikemukakan dalam sebuah diskusi tidak berbeda dengan kebohongan, ketidakwarasan dan omong kosong.
3. Kebenaran bersifat manusiawi
Artinya bahwa pengetahuan yang disampaikan secara alamiah dapat diterima atau dimengerti oleh manusia. Tak perlu ada rekayasa seperti melalui bujukan, paksaan atau paksaan. Jika ada rekayasa seperti itu maka perlu dipertanyakan kebenarannya. Kebenaran akan diterima jika hal itu memang sebuah kebenaran, diakui secara lisan atau tidak.
4. Kebenaran bersifat argumentatif
Dalam sebuah diskusi, pembuktian terhadap kebenaran sebuah pendapat atau pengetahuan baru harus dimiliki. Argumentasi digunakan untuk menjelaskan proses mendapatkan pengetahuan baru tersebut sehingga orang lain dapat menilai kebenarannya dari proses tersebut.
Argumentasi adalah proses bergeraknya suatu pengetahuan yang menjadi patokan menuju pengetahuan baru (kesimpulan). Dalam menilai kebenaran dan keabsahan argumentasi, ada dua hal yang harus diperhatikan. Pertama adalah kebenaran dari isi pengetahuan yang menjadi pijakan. Kedua adalah keabsahan penyusunan pengetahuan-pengetahuan pijakan menjadi suatu kesimpulan (proses pengambilan kesimpulan).
5. Kebenaran bersifat ilmiah
Ini dimaksudkan agar kebenaran suatu pengetahuan dapat dibuktikan oleh orang lain bahwa pengetahuan tersebut sesuai dengan kenyataan yang ada. Kebenaran yang tidak dapat dibuktikan oleh orang lain tidak dapat didiskusikan. Artinya bahwa kebenaran tersebut tidak dapat dihukumi untuk orang lain.
Dalam sebuah diskusi terkadang terdapat alasan tentang suatu pendapat yang bukan merupakan argumentasi, yang disebut dengan pebenaran. Pembenaran biasanya dilakukan dengan mengandalkan emosi, otoritas, ketakutan atau sekedar kekeliruan berpikir. Contoh dari pembenaran adalah sebuah pernyataan “Jangan masuk HMI!” “karena senior saya bilang begitu”, atau “karena beberapa alumni HMI menjadi politikus” atau “karena anak HMI jarang pake baju koko” dan lain sebagainya.
Sebagaimana dikatakan diatas bahwa diskusi dilakukan untuk mendapatkan pengetahuan baru. Sedangkan pengetahuan dibutuhkan untuk menentukan tujuan dan cara mencapai tujuan. Maka pengetahuan hanya bernilai jika digunakan untuk hal itu. Pengetahuan yang tidak digunakan bearti suatu kesia-siaan. Kesia-siaan adalah suatu kerugian. Kebodohan manusia dikategorikan menjadi dua yaitu kebodohan karena tidak adanya pengetahuan dan kebodohan karena tidak menggunakan pengetahuan yang dimiliki.
Yakin Usaha Sampai!!!
Friday, 25 November 2011
time post
8:10:00 am
Sedikit iri dan sedikit mengkoreksi diri ketika melihat seorang teman begitu leluasa dan begitu mudahnya untuk berkomunikasi dan mengutarakan keingin-dekatannya kepada seseorang yang dipujanya. Itu seperti memberikan tamparan keras kepadaku, ketika aku tidak memiliki keberanian untuk mendekatimu, seakan peristiwa itu menyindirku, melirikku dengan tajam dan menyudutkanku, situasi ketika ku tak ada pendukung untuk melakukan pembelaan terhadapan kepengecutanku. Sedikit berimpian dan membayangkan jika aku didalam posisi itu, ketika nanti saatnya ku memberitahukan kepadamu dengan langsung betapa ku sangat memujamu. Mungkin sifatku benar seperti yang dikatakan seorang teman bahwa aku adalah seorang pemuja rahasia, orang yang tak begitu berani untuk secara langsung mengatakan kepadamu aku sangat memujamu.
Tuesday, 22 November 2011
Ketikan Setengah Sadar
time post
11:15:00 pm
Hai wanita, mungkin engaku merasa diriku diam terhadapmu, tapi ku hanya ingin kau tau, diamku bukanlah ingin menjauh darimu. Mungkin kau bingung, mungkin kau pikir aku diam karena tak ingin kan mu, tapi aku hanya ingin bilang diamku hanya ingin menikmati betapa rasanya berkhayal memilikimu, ini bukan berarti aku tak inginkan mu, tapi ku tak ingin terlalu cepat untuk memilikimu, kurang tepat rasanya kalau ku bilang bisa memilikimu, karena mungkin cuma aku yang ingin memilikimu.
Menurut seorang teman, ada beberapa tahap dalam menjalin hubungan yang khusus dengan seseorang:
- berkenalan
Ini adalah tahapan awal ketika ingin menciptakan suatu hubungan. Berkenalan memulai suatu jalinan pertemanan. Ini sesuai dengan pepatah "tak kenal maka tak sayang". Starting awal untuk dalam suatu hubungan.
- komunikasi satu arah tanpa tanggapan
Tahapan ini tak semuanya dialami oleh orang yang ingin memulai sebuah hubungan. Dimana setelah starting berkenalan orang yang ingin memulai sebuah hubungan ingin melakukan komunkasi, tapi sayangnya orang yang dijadikan objek untuk berkomunikasi ini malah tidak menanggapi, ini ada dua kemungkinan, pertama karena orang yang dijadikan objek hubungan ini tidak ingin mencapai hubungan itu, dengan kata lain ini adalah harapan omong kosong. Kemungkinan kedua adalah dimana objek hubungan ini adalah orang yang tidak mudah untuk didekati, bisa dibilang jual mahal, akan tetapi itu bukanlah suatu hambatan.
- komunikasi satu arah dengan tanggapan
Tahapan ini adalah ketika orang yang menginginkan hubungan ini telah mendapat respon dari objek hubungan itu sendiri. Dimana orang yang menginginkan hubungan itu sudah berkomunikasi yang baik dengan objek, akan tetapi orang yang ingin hubungan ini selalu dia yang memulai komunikasi itu, harus dia yang berinisiatif dulu untuk memulai komunikasi.
- komunikasi dua arah
Tahapan ini adalah tahapan sebelum tahapan akhir, tapi ini tidak menjadi jaminan hubungan khusus akan tercapai. Tahapan ini menunjukkan inisiatif yang sama baik dari orang yang menginginkan hubungan maupun objek dari hubungan tersebut. Tahapan ini bisa dikatakan bahwa objek hubungan tersebut menjadi orang yang juga menginginkan hubungan tersebut. Respon komunikasi ini sangat baik dalam suatu tujuan hubungan khusus.
- tercapainya hubungan khusus
Ini adalah tahapan dimana tercapainya tujuan dari tahapan sebelumnya. Tahapan ini merupakan hal yang sangat positif, dimana orang yang menginginkan hubungan khusus dengan objek hubungan tercapai. Tahapan ini adalah akhir dari usaha untuk terciptanya hubungan khusus, tapi bukanlah tahap akhir, tahap akhirnya adalah mempertahankan hubungan khusus itu sendiri.
Kalau mengikuti teori dari seorang teman ini, aku merasa berada pada tahapan ketiga, dimana inisiatif komunikasi hanya berasal dariku. Bahkan kadang-kadang ketika aku memulai untuk berkomunikasi malah tidak ada respon. Itulah penyebabnya aku mengatakan bahwa mungkin cuma aku yang menginginkan hubungan khusus ini, menyebabkan aku selalu membayangkan itu, atau mungkin hubungan itu hanya sebatas bayangan atau mimpi bagiku, kuharap tidak seperti itu.
Sunday, 6 November 2011
Etika Berteman
time post
8:14:00 pm
Mungkin ini etika berteman, ataukah hal yang harus dihindari saat berteman, menurut saya. Kita adalah manusia, yang banyak mempunyai kekurangan dan tempatnya salah. Mungkin kesalahan itu dilakukan oleh kita atau teman kita, tapi tak seharusnya kita membicarakan kesalahan seorang teman kepada teman lainnya. Seharusnya seorang teman itu tidak menyebutkan kesalahan atau kekurangan teman kepada teman lainnya.
Berteman diberbagai lingkungan tidak lepas dari menyebutkan kesalahan seorang teman atau biasa disebut “menggunjing” –kan teman lainnya. Satu hal yang muncul dalam fikiran saya. Ketika teman menggunjingkan teman lainnya, ada kemungkinan teman yang biasa menggunjingkan teman itu menggunjingkan saya pada teman lainnya.
Mungkin menurut saya ketika seorang tersebut mempunyai kesalahan atau memiliki kekurangan alangkah baiknya kita mengatakan kepada teman yang melakukan hal tersebut, bukan menggunjingkannya pada teman lainnya. Itu bisa bermanfaat bagi teman itu sendiri, bukan membuatnya rendah pada teman yang lain, dan mungkin teman tersebut bisa menutupi kekurangannya dan tidak melakukan lagi kesalahan yang pernah dilakukannya.
Karena manusia tempatnya salah dan khilaf.
Sunday, 30 October 2011
Teruskan?
time post
5:44:00 pm
Pernah tidak anda berada dalam situasi ketika anda ingin melakukan sesuatu, tapi anda tidak tahu bagaimana memulai tindakan itu? atau ketika anda sudah mulai untuk melakukannya tiba-tiba anda harus berhenti karena sesuatu dan lain hal, kemudian anda harus melanjutkan kembali untuk meneruskan apa yang telah anda mulai untuk diselesaikan demi mencapai tujuan anda, tapi kemudian timbul kendala bagaimana untuk meneruskannya. Nah inilah posisi saya sekarang ini.
Saya merasa sangat sulit untuk memulai kembali yang sudah saya mulai. Saya berhenti karena merasa apa yang saya lakukan ini akan sia-sia, tapi kemudia muncul seorang teman yang meyakinkan saya bahwa apa yang saya lakukan ini akan mendapatkan hasilnya, jika saya terus berusaha melakukannya. Tapi timbul kendala baru ketika saya memulai kembali melakukannya, bingung untuk memulai lagi, bingung bagaimana meneruskannya.
Untuk saat ini saya untuk diam, bukan karena saya berhenti, tapi mencari peluang untuk memulai kembali apa yang telah saya awali. Disini saya mencari kesempatan, mundur satu langkah karena tiba-tiba berhenti untu melakukan lompatan tiga langkah. Saya cuma berharap semoga kesempatan itu ada.
Ada seorang teman yang teman yang bertanyanya kenapa saya ragu, ini berkaitan dengan postingan saya sebelumnya. Jadi begini, ketika saya melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan pasti ada rasa pesimis, biasanya rasa itu kecil, tapi dalam hal ini pesimis itu sangat besar mempengaruhi, karena ini menyangkut masalah hati, sangat sulit untuk memastikannya. Mungkin ini dipengaruhi juga karena saya sudah lama tidak melakukan ini. Hal semacam ini terakhir kali saya lakukan kira-kira beberapa tahun yang lalu, kira-kira 2 tahun an lebih, dan itu juga berakhir dengan sangat tidak menyenangkan, kemudian saya bertekad pada tahun pertama saya kuliah harus berhenti, daripada terus merasakan sakit itu. Pada saat ini saya bingung untuk melakukannya, dan karena itulah mengapa rasa pesimis itu sangat besar dan menjadikan saya ragu.
Saturday, 15 October 2011
Ragu?
time post
8:06:00 pm
Ragu? entahlah apa artinya dari kata itu, satu kata yang terdiri dari empat karakter yang bisa dibilang merupakan kata sifat. Apa sebenarnya arti kata dan makna dari sebuah kata ragu? Sungguh saya juga ragu akan makna kata itu. kata yang sering digunakan orang ketika dia tidak benar-benar percaya, ya itulah ragu, ntah apa arti dan maknanya, tapi lupakan arti kata ragu yang sungguh meragukan.
Sering saya dalam posisi seperti ini, ragu ragu ragu seperti keadaan saat sekarang. Hati lagi-lagi masalah hati, perasaan ya itulah pokoknya. Sesuatu rasa ketika kamu dalam keadaan ya bisa dibilang menyukai, mencintai bahkan menyayangi lawan jenismu. Kata ragu disini bukan ketika kamu ragu dalam menyukai, mencintai atau menyayangi seseorang, tapi ketika kau ragu apakah orang itu memiliki rasa yang sama seperti yang kamu rasakan.
Kadang ada saatnya ketika kamu merasakan "dia" memberikan balasan yang sama atas wujud dari rasa yang kamu rasakan. Tapi kadang kamu tak yakin dengan apa yang dia berikan itu merupakan balasan dari rasa yang kamu berikan. Nah, disinilah kata ragu yang saya maksudkan. Rasa ragu itu membuat saya ragu dalam melakukan tindakan. Apa yang seharusnya saya lakukan, apakah tetap untuk maju atau berhenti sampai disini.
Sebenarnya saya ragu juga memasukan tulisan ini di dalam blog saya, tapi itulah ragu. Kadang kita bertindak tidak sesuai dengan yang seharusnya.
Subscribe to:
Posts (Atom)